Mengintip Prospek Saham Unilever Usai Rilis Laporan Keuangan Kuartal III 2022

Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) terpanatau berada di zona merah. Koreksi saham UNVR terus berlanjut pada periode 31 Oktober-2 November 2022.

Pada penutupan perdagangan 2 November, saham UNVR turun 0,66 persen ke posisi Rp 4.500 per saham. Sebelumnya pada perdagangan 1 November 2022, saham UNVR melemah 2,37 persen ke posisi Rp 4.530 per saham.

Saham UNVR bahkan sempat turun 6,85 persen ke posisi Rp 4.640 per saham pada perdagangan 31 Oktober 2022. Pada pekan lalu, tepatnya Jumat, 28 Oktober 2022, saham UNVR terpangkas 6,92 persen ke posisi Rp 4.980 per saham.

Analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya menuturkan, Unilever Indonesia mengakhiri kuartal III 2022 dengan penurunan bottom line sebesar 11,4 persen yoy menjadi Rp 1,1 triliun dibandingkan kuartal III 2021 sebesar Rp 1,3 triliun.

“Penurunan tersebut didorong oleh berlanjutnya tekanan pada harga komoditas yang tinggi sehingga menekan marginnya. Terlepas dari itu, marjin laba bersih sembilan bulan pertama 2022 UNVR secara keseluruhan stabil di 14,6 persen mengingat biaya layanan pusat yang lebih rendah dan kelincahan biaya,” terang Christine, Kamis, (3/11/2022).

Sementara, laba bersih Unilever Indonesia hingga September 2022 masih tumbuh sebesar 5,3 persen menjadi Rp 4,6 triliun. Raihan itu sejalan dengan perkiraan Mirae Asset Sekuritas dengan mencapai run-rate masing-masing 71 persen dan 73 persen.

Rekomendasi Saham

“Top line tumbuh sebesar 2,3 persen yoy di kuartal III 2022, sebagian besar didorong oleh kenaikan ASP sebesar 10,6 persen yoy di kuartal tersebut. Hingga September 2022, UNVR membukukan topline Rp 31,5 triliun atau tumbuh 5 persen yoy. Sejalan dengan pencapaian run-rate 73 persen dari perkiraan kami dan 75 persen dari perkiraan konsensus terhadap perkiraan satu tahun penuh pada 2022,” ujar Christine.

Perseroan melanjutkan transformasi channel yang dimulai sejak semester II tahun lalu dan mulai mengurangi stok di sisi perdagangan pada kuartal III 2022. Manajemen Unilever sebelumnya mengatakan langkah ini akan berlanjut pada kuartal IV 2022. Selain itu, UNVR juga akan terus berinvestasi untuk pertumbuhan dengan melakukan inovasi produk sambil mengelola tekanan inflasi dengan kenaikan harga yang selektif serta menjaga penghematan biaya.

“Sementara pengurangan stok perdagangan akan berlanjut di kuartal IV 2022, kami berharap pendapatan yang lemah akan terus berlanjut sambil mengincar penjualan yang lebih baik pada 2023 untuk produk-produk inovatif. Kami menyempurnakan prakiraan kami dan meningkatkan basis penilaian kami ke 2023F. Kami mempertahankan rekomendasi hold kami di UNVR,” ujar Christine.

Penjualan Unilever Indonesia Sentuh Rp 31,54 Triliun hingga September 2022

Sebelumnya, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengumumkan kinerja keuangan perseroan untuk periode yang berakhir pada 30 September 2022. Pada periode tersebut, perseroan berhasil mengantongi penjualan bersih Rp 31,54 triliun, naik 5,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 30,03 triliun.

Bersamaan dengan itu, harga pokok penjualan naik menjadi Rp 15,69 triliun dari Rp 14,94 triliun pada September 2021. Sehingga laba bruto turun menjadi Rp 14,95 triliun dibanding posisi September 2021 sebesar Rp 15,09 triliun.

Mengutip laporan keuangan perseroan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (27/10/2022), perseroan mencatatkan beban pemasaran dan penjualan sebesar Rp 6,41 triliun, beban umum dan administrasi Rp 2,52 triliun, dan penghasilan lain-lain Rp 3,46 miliar.

Aset Perseroan

Dari rincian ini, perseroan memperoleh laba usaha sebesar Rp 6,02 triliun. Pada periode ini, perseroan juga menyatakan penghasilan keuangan per September 2022 sebesar Rp 7,34 miliar dan biaya keuangan Rp 59,09 miliar. Setelah dikurangi pajak penghasilan, perseroan berhasil mengukuhkan laba sebesar Rp 4,61 triliun, naik 5,31 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,38 triliun.

Dari sisi aset Unilever Indonesiasampai dengan September 2022 tercatat sebesar Rp 20,24 triliun, naik dari posisi akhir tahun lalu senilai Rp 19,08 triliun. Terdiri dari aset lancar senilai Rp 89,35 triliun dan aset tidak lancar Rp 10,89 triliun.

Liabilitas sampai dengan September 2022 tercatat sebesar Rp 14,51 triliun, turun dibanding posisi akhir tahun lalu sebesar Rp 14,75 triliun. Terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp 12,35 triliun dan liabilitas jangka panjang Rp 2,16 triliun. Sementara ekuitas hingga September 2022 naik menjadi Rp 5,73 triliun dari Rp 4,32 triliun pada Desember 2021.

Baca Juga :